Rabu, 21 September 2016

Gentayangan

Tak banyak yang aku pinta, sayang,
cuman di setiap menung rindu kau itu, paksinya,
aku.

Sepertimana, aku,
merindu kucup mulusmu,
saat kau sengaja kerling separa nakal matamu waktu kau malu-malu merangkul aku ke dakap kasihmu,
malam itu.

Ah,
usap jemari kau saja sudah bisa melega banyolan hati dek ruwet dunia di siangnya,
yang barangkali kalau kau ingat lagi waktu itu, sambil-sambil kau senyum, kau usap rambutku,
lalu kau bilang,

“Gak usah gundah sayangku, aku ini selalu ada, untuk raih setiap jerihmu.”

Ah,
kenapa jarak perlu memisah-asing dua jiwa yang seharusnya serangkulan?
kenapa jarak perlu memisah-asing dua tubuh secinta yang cakna berkasih sayang?

Aku gak bersedia untuk teruji hebat dengan perlumbaan siapa lagi rindu siapa,
sedang kita tahu, meter rindu kita sama-sama skala richternya nakal, naik-turun-naik-turun laju!

Kau juga rasa yang sama bukan?

Ah, kau tahu?
Adapun dalam setiap gerak tubuh wanita ini, juga di selang hela nafasnya saban hari,
di antara detak-detak jantung yang terkadang bak terhenti,

“Aku ini sebenarnya, telah, sedang, masih dan akan tegar terwujud demi merindukanmu, sayangku.”

Sayang,
hidup ini, walau kadang terselit sakitnya sebuah paksaan; resmi kita yang di kejam kejauhan,
kita tetap masih ada; manisnya sebuah pilihan.

Dan aku?
Aku pilih untuk senantiasa merindukanmu, di balik gentayangan yang men-senyum-pilu.


Kuantan – Shah Alam , 21 September 2016
Ermie Fadhullah – Aifaa Rizwan

#sepuisi
#tempatpalingliardimukabumi

Khamis, 31 Mac 2016

Kecelaruan yang temporer

Dunia bukan lagi tempat gembira,
Bilamana kau tidak pasti lagi perkaitan yang kuat antara kenyataan; juga harapan.

Harapan ini seolah tali gantung,
Kalau mujur jadi; maka selamat,
Silap tingkah? pasti terjerat.
Penyudahnya; hati mati

Tapi kenyataan?
Sedar-sedar kau ditengah kerumunan,
Yang mana gaduh ramaian tetap masih dan sedang bikin kesemarakan momen-momen sunyi,
Lalu dalam diam kau cari sesuatu untuk kau tujukan barang selagu dan alunkan melodi untuk puisi-puisi yang sudah lama terbiar melapuk dalam tampuk fikiran.

Namun perjalanan ke situ yang menjadi tanda tanya,
Apa penantian itu cuma berkesudahan sebagai cuma mimpi yang terbit kala termenung, atau cuma kecelaruan yang temporer.

Khamis, 26 November 2015

Surat dari Leo

Ada juntaian sendu lampau di raut wajahmu,
Melintuk meleka hingga kau lemas dalam dendam menggelisah,

Fobia, lalu kau.
Mudah, benci segala.
Dan,
Cakna, berontak membuta.

Andai bongkah emas realiti pun kau bisa sadur dengan plastik mimpi ngeri, kenapa tidak kau entengkan saja garis-garis lampau yang jelas berselirat membungkam nestapa.

Tenang, lalu kau,
Mudah, senyuman segala,
Dan,
Cakna, mimpi indah sentiasa

Biar nanti, suatu hari kau bisa perhati titis hujan itu sebenarnya bukan lagi melankolia.

Atau, kalau belum bisa juga?
Kemari kau ikut aku ke hutan, rasa gimana jadi singa di rimba.